Cahaya & Warna Benda

Cahaya & Warna Benda

Cahaya & Warna Benda

1

Seeing is believing” – mungkin itulah mengapa kita selalu yakin dengan apa yang kita lihat dengan mata kita. Padahal, sesuatu yang kita lihat merupakan sebuah persepsi visual yang sangat dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor utama, yaitu indra penglihatan dan kualitas cahaya. Terhadap objek yang sama, persepsi visual setiap makhluk hidup ternyata berbeda-beda, terutama soal warna. Berbeda dengan anjing yang hanya melihat objek dalam warna terbatas, kita sebagai manusia dapat melihat objek dalam berbagai macam warna. Hal ini terjadi karena mata anjing hanya memiliki 2 sel kerucut, sedangkan mata manusia memiliki 3 sel kerucut. Sel kerucut atau reseptor warna inilah yang bereaksi terhadap cahaya sehingga mata dapat menafsirkan warna suatu benda. Namun, bagaimana kita menyatakan warna sesungguhnya sebuah benda yang kita lihat?

Proses Melihat Warna

Ketika cahaya menyinari sebuah benda, benda tersebut akan menyerap sebagian cahaya dengan panjang gelombang tertentu dan memantulkan sebagian lainnya ke dalam mata. Cahaya yang masuk ke mata itu kemudian merangsang sel kerucut mata untuk memberi sinyal kepada otak, dan akhirnya otak memberi kesimpulan tentang warna benda yang terlihat.

Lebih dari itu, penafsiran warna sebenarnya merupakan hasil kombinasi reaksi tiga tipe sel kerucut mata yang masing-masing memiliki sensifitas berbeda terhadap panjang gelombang cahaya tertentu. Ketiga tipe sel kerucut tersebut, yaitu tipe S untuk cahaya gelombang pendek, tipe M untuk cahaya gelombang medium, dan tipe L untuk cahaya gelombang panjang.

2 3

Dalam kondisi normal, cahaya dengan panjang gelombang 690 – 760 nanometer hanya akan merangsang sel tipe L sehingga benda terlihat merah. Sedangkan, cahaya dengan panjang gelombang 560 – 570 nanometer akan merangsang sel tipe L dan M dengan intensitas yang sama sehingga benda terlihat kuning. Untuk benda yang terlihat hijau, berarti panjang gelombang cahaya tampak yang dipantulkan benda berkisar antara 520 – 530 nanometer.

Temperatur Warna Cahaya terhadap Warna Benda

4Temperatur warna merupakan salah satu karakteristik cahaya tampak yang mempengaruhi penafsiran warna benda yang kita lihat. Dinyatakan dalam Kelvin (K), konsep temperatur warna sebenarnya didasari oleh warna cahaya tampak dari sebuah objek hitam ketika memancarkan radiasi elektromagnetik. Semakin tinggi radiasi atau panas, warna cahaya menjadi semakin putih kebiruan. Sedangkan, semakin rendah radiasi atau dingin, warna cahaya menjadi semakin kuning kemerahan. Perlu diperhatikan bahwa ini berlawanan dengan persepsi pikiran kita terhadap warna secara umum, dimana putih kebiruan berarti dingin dan kuning kemerahan berarti panas.

Temperatur warna cahaya yang berbeda memberikan kesan yang berbeda pula pada warna benda yang disinarinya. Hal ini karena dalam kondisi temperatur warna tertentu, kekuatan maksimal cahaya juga berada di panjang gelombang tertentu saja. Pada temperatur warna 6000K, kekuatan maksimal cahaya berada di rentang gelombang spektrum biru. Sedangkan, pada temperatur warna 3000K, kekuatan maksimal  cahaya berada di rentang gelombang spektrum merah. Itulah mengapa cahaya dengan temperatur warna 6000K lebih cocok digunakan untuk menyinari benda berwarna gradasi putih hingga biru. Sedangkan, cahaya dengan temperatur warna 3000K lebih cocok digunakan untuk menyinari benda berwarna gradasi merah hingga kuning.

Dengan temperatur warna cahaya yang tepat, warna benda akan tampak cemerlang karena cahaya dengan gelombang spektrum warna itulah yang paling kuat & dipantulkan secara maksimal ke dalam mata.

Color Rendering Index (CRI)

5

Selain temperatur warna, kualitas cahaya lainnya yang mempengaruhi penafsiran warna adalah Indeks Kesesuaian Warna atau Color Rendering Index (CRI). Nilai CRI suatu cahaya menunjukkan kemampuan cahaya dalam menampilkan berbagai spektrum warna yang terlihat pada benda. Semakin tinggi nilai CRI, semakin tinggi pula kualitas warna keseluruhan yang ditampilkan pada benda. Nilai maksimum CRI adalah 100 dan nilai ini dimiliki cahaya matahari serta lampu pijar filamen. Namun, nilai tersebut tidak dapat digunakan sebagai indikator bila temperatur warna cahaya itu sendiri berada di bawah 5000K. Sebagai contoh, cahaya lampu pijar filamen yang memiliki temperatur warna 2700K tidak akan dapat menampilkan berbagai spektrum warna pada benda secara maksimal, kecuali untuk warna gradasi merah hingga kuning.

6

Beberapa jenis sumber cahaya lain seperti lampu fluorescent, lampu sodium, lampu discharge, serta LED memiliki nilai CRI kurang dari 100. Apabila nilai CRI rendah atau bahkan negatif seperti pada lampu sodium, maka warna benda yang ditampilkan juga semakin menyimpang dari warna standar yang seharusnya. Gambar di atas menunjukkan pertokoan & jalan yang seluruhnya tampak berwarna kuning karena menggunakan pencahayaan lampu sodium.

TabelDengan memahami cara kerja mata kita dan juga kualitas cahaya yang dibutuhkan, kita dapat memilih sumber cahaya yang tepat sesuai dengan kondisi atau kegiatan. Perlu dicatat bahwa persepsi visual akan warna juga bersifat subjektif bagi setiap orang. Sebagai contoh, orang berusia muda melihat warna biru lebih baik daripada orang yang berusia lanjut.

Oleh: Yunita Cindra – untuk HTI

Translate »